7 April '09..
bip..bip..ringtone dari handphone jadul-ku menandai sebuah pesan singkat masuk, dari Riskhy ternyata, sahabat cantik-ku yg berkulit putih bersih, berjilbab, dengan bentuk tubuh idealnya...meminta do'a untuk seorang teman sekelas kami yang pada siang terik itu harus kehilangan kesadarannya lagi, ini kesekian kali, setelah beberapa hari dirawat intensif akibat kecelakaan yg dialaminya bersama seorang teman kami yg lain. I was working...siaran di sebuah radio swasta kediri yg cukup punya nama di kalangan anak muda kota kediri tanpa membalas pesan rishky, kuselesaikan pekerjaanku tepat jam 3 sore. Dengan motor kombinasi hitam-merah milikku, aku meluncur ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari radio tempatku bekerja dimana Almh.Yuyun Hidayati tergeletak melemah.
Sore itu aku memang sengaja ijin kuliah agar bisa memantau perkembangan Almh.Yuyun sekaligus menemani beberapa sahabat Almarhumah yg juga dekat denganku (selain karena jabatan ketua kelas yg teman2 percayakan padaku).
Aku masuk ke ruang ICU dimana terdapat kumpulan manusia dengan fisik sangat lemah dalam berbagai kondisi berbeda tergeletak tak berdaya. Di ranjang pesakitan paling ujung, mataku menangkap sosok Almh.Yuyun yg kurus kering itu terbaring terpejam,, Astaghfirullah...betapa aku seharusnya bersyukur bahwa Allah belum pernah memberi cobaan seberat itu padaku (semoga takkan pernah,Na'udzubillah..). Mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya aq berdiri di hadapan tubuh terlilit selang infus yg terlihat mengerikan dari jarum suntik tajam menghujam nadi kanan gadis yg ku kenal cerdas dan kritis itu..
"Beri kesembuhan pada Yuyun Yaa Allah..Amin..", hanya kalimat itu yg terbersit ketika jari jemariku kulekatkan di tangan lemahnya, selain sholawat tak henti, berharap itu cukup menguatkan yuyun temanku...Dan bukan hanya aku...karena di luar ruang pengap ini keluarga dan para sahabatnya juga tak putus mengucap harap yg sama..
Dan lurus dibalik tembok tempat yuyun terbaring, ketika aku keluar ruang ICU, ada sulis yg terduduk di lantai dingin rumah sakit..dia memang paling terpukul...kedekatan dengan Yuyun selayaknya keluarga, membuat sulis, wanita beranak satu ini, tak henti meneteskan air matanya dengan ribuan do'a demi kesembuhan adiknya itu..
ada winda....ada rishky....ada aku....bersamaan kami merengkuh dan menguatkan sulis, yg kesehariannya selalu memancing tawa kami sekelas dengan celetukan lucunya..
Ketika merdu seruan adzan memenuhi langit sore kota kecil ini, kucoba kuatkan hatiku dan menuntun sahabat2ku itu berdiri..untuk sejenak menghadap kehadiratMu wahai Sang pemilik hidup..mengharap satu keajaiban terjadi atas sahabat kami Yuyun di dalam ruang pengap itu...
Mencari rumahMu di utara Rumah Sakit besar yg separuhnya masih dibangun,,tak kami temukan...meneruskan langkah menuju Perguruan Tinggi Islam tepat di sebelah onggokan rumah Tuhan kami yg tlah rata tanah. Alhamdulillah...2 ukhti yg baik hati (Semoga Allah menempatkan kalian di tempat terindah,Amin..) mempersilahkan kami memasuki pondok kecil mereka, sekedar meminjam kain putih kebanggaan kami para muslimah,,sayangnya hari itu hanya sulis yg tidak kedatangan "tamu" bulanan,sehingga hanya dia yg mampu dengan suci menghadapMu (betapa menyesalnya aq hari itu Yaa Allah).
Aku, winda dan rishky menanti setia di depan pintu pondok dengan tanpa henti mengiringi do'a sulis di dalam..Namun betapa kami terhenyak,,saat winda menerima pesan singkat dr kakak perempuan yuyun yg masih di Rumah Sakit...Innalillahi wa inna ilaihi roji'un....Engkau telah mengambil lagi milik-Mu Ya Allah...teman kami,sahabat kami...tangis kami memecah...air mata membuncah...tapi tak bisa tetap berdiri meratap...winda dan rishky bergegas kembali ke kampus, memberi kabar pada teman-teman lain, sedangkan aku...aku tetap memaku di depan pintu...menyeka tetesan air mata yg masih jatuh satu - satu..menunggu seorang sahabat yg masih terpekur memanjatkan do'a untuk Yuyun, tanpa tau bahwa Allah sudah memutuskan jalan terbaik untuk Yuyun...aku harus siap, harus bisa menguatkan sulis juga..itu saja yg terfikir..
Kupijak karpet usang di balik pintu itu..kutemukan sulis melipat bagian bawah mukena yg dipakainya dengan wajah yg mulai menenang...betapa aku tak kuasa,hingga aku memeluknya dan berbisik.."Mbak..sabar ya...Yuyun meninggal..",,dengan isak tangis kecilku...Astaghfirullah...sebuah reaksi yg tak kuperhitungkan sebelumnya dari seorang Sulis!!tubuhnya memberat dan mulai lemas dalam dekapanku, diiringi teriakan histeris yg menusuk gendang telingaku, sampai akhirnya pingsan di pangkuanku,,aku terduduk, aku panik, tapi aku sendirian! 2 ukhti yg hingga kini belum ku tahu namanya itu, menghampiri dan membantuku menyadarkan Sulis dengan sebotol minyak kayu putih..BERHASIL!! Alhamdulillah...gumamku saat itu..tapi bercampur tangis tak tertahan beberapa detik kemudian..bagaimana tidak, sulis seperti kehilangan akal, terus berteriak, menangis, memanggil nama yuyun agar mengajaknya pergi bersama, lalu pingsan lagi sedetik kemudian,,begitu terus hingga 4x terulang..
Kusadari bahwa tak seharusnya aku tetap berdiam diri, tapi otakku pun tegang, tak tau apa yg mesti aku lakukan sendirian di tempat terasing itu. Di saat seperti itu, saat roda fikirku terhambat kepanikan, tanganku meraih handphone di tas dan tergerak begitu saja menekan tombol huruf M, lalu call...ada namamu disana..MFB ^_^...nama yg kubuat sendiri dengan kekagumanku...karena memang hanya nama dan wajahmu yg terbersit di gelisahku sore itu..Allahu Akbar!!
Aku mengadu..memintamu datang membantuku walau sebenarnya ini sama sekali tak berhubungan denganmu,,tapi entah..aku hanya merasa..aku percaya kamu...kamu pun memintaku menunggu. Kututup telponku dan bergegas kembali ke pondok untuk melihat keadaan Sulis. Dia lemah...matanya membengkak karena terlalu banyak menangisi kepergian Yuyun.
Bip...bip....handphone ku berbunyi lagi,,1 pesan dari mas agny...menanyakan keberadaanku,,aq berlari ke luar pondok untuk mencari sosokmu..tapi hanya kutemukan mas agny di seberang jalanan bandar yg padat. Sedikit kecewa,,tapi hilang..ketika mas agny bilang kamu ada di dalam Rumah Sakit..kuminta mas agny masuk menemanimu, sementara aku akan menjemput kembali Sulis dari pondok. Sulis pun telah benar-benar sadar dari pingsannya..dia meraih tanganku dan memohon untuk mengajaknya kembali karena dia ingin menemui Yuyun, kuturuti...
Pelan tapi pasti, ku papah dia dengan sisa tenaga yg mulai menipis,,pundakku nyeri sekali,,tapi apalah arti nyeri itu dibanding kehilangan yg kami rasakan, Sulis terutama..dia begitu menyayangi Yuyun..
Sesampainya di Rumah Sakit, kulihat sosokmu di depanku..tepat di lobi Rumah Sakit,,Subhanallah....betapa letihku memulih...pesonamu saat terdiam seperti itu menjebak alam sadarku...sayangnya aku tak mampu menikmatinya lebih lama karena ini bukan saat yg tepat, gumamku dalam hati. Kau menghampiri dan membantu kami duduk di deretan kursi ruang tunggu. Aku masih saja gundah, untuk 2 hal..pertama, mengapa teman-teman tak juga datang sedangkan Sulis semakin sulit dikendalikan..dia seperti kurang waras..sejenak aku takut...dia tertawa, marah, memaksa, menangis, berteriak, hingga semua mata tertuju pada kami..haru-ku mendesak air mata ini keluar...kamu pun mencoba menenangkanku..selain membantu menahan agar Sulis tak sampai di ruang ICU..kita memang harus mencegah dia sampai dia tenang. Entah apa yg kamu fikirkan tentangku,,aku hanya merasa kehilangan kepercayaan diri saat harus dekat denganmu dalam keadaan seperti itu..sekaan air mata, penat, peluh, dan ketegangan kurasakan memenuhi wajahku hingga tak terlihat segar sama sekali,aah..malunya...tak cukup berani membiarkanmu melihatnya lebih lama...kegundahanku yg kedua...........tapi sudahlah..toh pada saat itu yg terfikir hanya bagaimana aku mengatasi semua sebagai bentuk kesetiakawanan dan tanggung jawab seorang ketua kelas dan seorang muslimah...kamu ada disana saja sudah menjadi sebagian besar rasa syukur-ku hari itu..
Petang mulai menyelimuti, teman-teman datang dan menggantikanku menjaga Sulis yg tak kunjung tersadar dari tingkah semrawutnya. Bersama-sama kami menuju kamar mayat...hampir semua teman wanitaku terisak...siapa sangka Yuyun yg masih tertawa dan belajar bersama seminggu lalu, kini terbujur kaku dalam balutan kain batik menutup seluruh tubuh kecilnya...Wallahu'alam..
Kucoba melepas lelahku sejenak..saat tanpa sadar kepala ini terebah di bahu kurusmu..nyaman....tapi tak lama..karena kau memilih berdiri...saat itu aku berfikir betapa tak tau malunya aku,,mungkin kamu pun berfikir sama..(maafkan untuk kelancangan itu..)
Huufftt...mulai beranjak malam,,kuajak teman-teman kembali ke lobi agar keluarga Almarhumah tidak terganggu untuk mempersiapkan pemakamannya.
Di lobi Sulis pingsan lagi...entah karena lelah atau bingung, hampir tak ada satu teman lelaki pun yg dengan sigap membantu. Aku bergerak, mencoba mengkoordinir teman yg lain untuk membantu..sedikit emosi sebenarnya,,tapi kurasa tak perlu,,karena lagi-lagi..bukan saat yang tepat. sedang sibuk-sibuknya menyadarkan Sulis, mataku menangkap langkahmu keluar pintu Rumah Sakit...hhmm..kau pasti sudah lelah dan memilih pulang terlebih dahulu..ingin mengejarmu keluar dan mengucap terima kasih sedalamnya sebelum sosokmu hilang. Tapi ya sudahlah, aku rasa keesokan harinya pun takkan ada kata terlambat untuk berterima kasih, tekadku..lagipula aku masih harus menunggu sampai ayah Sulis datang dan membawanya pulang, teman-teman pulang, baru aku jg ikut pulang. Tak tega rasanya melihat wajah-wajah letih para sahabatku itu..
4 menit kemudian ternyata kau kembali dengan sebotol aqua sedang dan 2 kemasan gelasnya..kecewaku terbungkus kekaguman bahwa kamu,,sosok yg menggetarkanku,,begitu tanggap dan peduli keadaan orang lain yg bahkan bukan temanmu...Subhanallah..semakin melambung karena minuman itu ternyata tak hanya untuk Sulis, tapi jg aku...Walhamdulillah Yaa Rabbi...kamu memintaku meminumnya agar letihku berkurang, senangnya....terima kasih...(walaupun hadirmu saja sebenarnya sudah sangat mengurangi letihku hari itu..^_^)
Sempat terjadi sedikit perdebatan, siapa yg akan mengantar Sulis pulang dengan keadaan lemas seperti itu??Ayahnya tak mungkin sendirian dan memegangi sulis dari depan, karena jarak rumah mereka cukup jauh. Saling melempar....tapi aku mulai benar-benar penat hingga kuputuskan untuk ikut mengantar, untungnya aku membawa motor sendiri, jadi tak perlu merepotkan orang lain lagi mengantarku pulang. Dengan sedikit ketidaknyamanan (karena aku memakai rok saat mengendara motor), aku mengikuti Sulis, ayahnya, dan Burhan, temanku yg akhirnya bersedia turut mengantar,,dari belakang. Aku semakin nyaman ketika tau kamu mengajakku ngobrol sembari naik motor kita masing-masing, kamu bilang sekalian pulang.
Motor kita berhenti di sebuah pelataran yg cukup luas tepat di pinggir jalan. Sebuah rumah sederhana menyambutku tenggelam di dalamnya. Sulis dengan lemas masih memanggil nama Yuyun tanpa henti. Ayah, ibu, dan suaminya berusaha menenangkan Sulis dan membujuknya tidur. Aku dan burhan pamit karena sudah cukup larut, Burhan masih harus menunggu bus di depan kampus nanti, sedangkan perjalananku juga cukup panjang untuk sampai di rumah.
Sedikit terperanjat saat menemukanmu masih tak bergeming dr atas motormu..(hhaahh..rindunya aku pada motor ber-plat nomor AG 3452 VX itu).
Tanpa ragu aku pamit dan berterima kasih dengan sedikit basa basi yg pasti terdengar "GAK BANGET" di telingamu.
Kamu mengusap kepalaku, kemudian berkata.."bawa jaket??", "gak", jawabku. Kamu menawarkan jaketmu dengan sopan, saat kutanya will u be alright without the jacket, U said that your house was just about 100 metres from Sulis' house. Detik seakan berhenti malam itu...saat kau lepas jaket hitam itu dan memberikannya padaku...Yaa Allah...mimpi apa aku semalam??*____*
Kamu masih terlihat tampan dalam balutan kemeja putih lengan pendek bermotif daun-daun bambu kecil berwarna hijau. Kucium tanganmu (sangat terbiasa dengan itu) kemudian naik ke jok belakang karena kali ini Burhan supirnya,,hehe...
melihatmu yg semakin jauh hingga hilang dari pandanganku malam itu, benar-benar membuat rongga dadaku penuh dengan udara sesegar embun. Semakin penuh di tengah perjalanan pulang itu,,yg kemudian kutuliskan dalam sebuah diary hidupku...
Ya...7 April '09....jam 8 kurang 4 menit....saat kuterima pesan singkatmu,.
"Nek plang ati2 gak sh ngebut, nek pke jket yg bener yo ndok"...
Subhanallah....dan sesampai di rumah....setelah membersihkan diri, ku rebahkan tubuhku, tersenyum mengingatmu, dan tertidur pulas....dengan aroma terharum yg pernah kucium...karena jaket hitam itu, tertelungkup menyelimuti wajah payahku...
Alhamdulillah Yaa Allah....untuk kesedihan yg Engkau ganti bahagia hari ini...
Alhamdulillah..*_______*
Minggu, 08 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Subhanallah..
BalasHapusbahasanya seperti novel2..
sampai membuatku terharu.. ToT